Pemimpin Korut Kim Jong-il (kedua kanan) mengunjungi kota Hyesan di provinsi Ryangggang untuk memberikan penyuluhan lapangan pada gambar tak bertanggal yang dirilis kantor berita resmi Korut KCNA di Pyongyang, Rabu (19/5). ( ANTARA/REUTERS/KCNA/djo/10)

Korea Utara Rabu memperingatkan, pihaknya akan menutup pintu penyeberangan Korea Selatan ke kawasan industri bersama jika Seoul terus maju dengan rencananya melanjutkan siaran-siaran propaganda lintas perbatasan.

Militer Korea Utara berikrar dalam satu pesannya kepada Korea Selatan bahwa pihaknya akan menutup semua lalu lintas perorangan dan kendaraan dari seksi barat kawasan perbatasan, jika siaran-siaran itu dilanjutkan, kata Kantor Berita Korea Utara, KCNA.

Situasi di semenanjung Korea semakin tegang setelah tim penyelidik multinasional Kamis lalu menyimpulkan, tenggelamnya kapal perang Korea Selatan Cheonan pada 26 Maret lalu adalah akibat torpedo kapal selam Korea Utara. Sebanyak 46 pelaut Korea Selatan tewas dalam peristiwa itu.

Seoul menyatakan akan melakukan tindakan balasan dengan akan membawa masalah itu kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB), namun Pyongyang menyangkal pihaknya terlibat dalam kasus tenggelamnya korvet berbobot 1.200 ton itu.

Korea Utara bahkan mengumumkan untuk memutus semua hubungan dengan Korea Selatan, jika negaranya dijatuhi sanksi lagi oleh PBB.

Sementara itu pemerintah Amerika Serikat memandang “aneh” keputusan Pyongyang itu dalam pernyataannya Selasa.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, P.J.Crowley, mengatakan, keputusan Pyongyang itu justru tidak memenuhi kepentingan jangka panjang terbaik rakyat Korea Utara.

“Korea Selatan adalah salah satu ekonomi paling dinamis di dunia. Sebaliknya, Korea Utara merupakan sebuah ekonomi gagal, bahkan oleh pengakuannya sendiri,” katanya.

Menurut Crowley, “Korea Utara selama ini tidak mampu memelihara dan menafkahi rakyatnya”.

Sumber : ANTARANEWS

Posted by: jorkep | May 26, 2010

Rusia Ingatkan Korut, Korsel Tahan Diri

Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. (ANTARA/REUTERS/Ria Novosti/Kremlin/Vladimir Rodionov)

26 mei 2010, Moskow — Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyerukan Korea Utara dan Korea Selatan untuk menahan diri guna menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea.

Kantor berita Rusia Ria Novosti melaporkan, Presiden Medvedev menyampaikan seruan Rusia tersebut saat ia melakukan pembicaraan telepon dengan timpalannya dari Korsel, Presiden Lee Myung-bak, Selasa.

“Jangan lagi meningkatkan ketegangan di kawasan itu,” kata Medvedev merujuk pada ketegangan antara kedua Korea yang dimulai pekan lalu, setelah Seoul mengumumkan bahwa kapal tempurnya diserang oleh kapal selam Korut.

Tudingan Korsel itu dibantah keras oleh Korut dan menyatakan akan mengirim tim penyelidikan untuk memverifikasi bukti-bukti Korut tersebut.

“Presiden Korsel telah menginformasikan kepada Medvedev mengenai situasi di sekitar insiden itu. Presiden Rusia menyampaikan terima kasih kepada Lee Myung-bak atas penjelasannya yang rinci dan menyampaikan belasungkawa atas insiden yang menelan puluhan korban jiwa,” demikian keterangan pers Kremlin.

“Medvedev berharap bahwa meskipun situasi itu berlangsung dramatis, namun ketegangan di Semenanjung Korea harus dicegah,” kata keterangan pers itu.

Sebelumnya, Korut mengatakan, pihaknya akan melakukan aksi militer jika Korsel terus melanggar perairannya di lepas pantai barat Semenanjung Korea.

Kedua Korea mengalami kebuntuan berkaitan ketegangan atas sengketa perbatasan laut di Laut Kuning yang menjadi tempat serangan torpedo yang menenggelamkan kapal perang Korea Selatan, Cheonan, 26 Maret lalu yang menewaskan 46 orang.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il memerintahkan pasukan dan organisasi sipil untuk siaga perang setelah Korea Selatan menuduh Pyongyang bertanggung jawab atas penenggelaman kapal perang itu, kata sekelompok pembelot, Selasa.

Solidaritas Intelektual Korea Utara (NKIS) yang berbasis di Seoul mengatakan, sikap siaga telah diperintahkan pada Kamis malam lalu, hari saat tim penyidik multinasional di Seoul mengumumkan hasil temuan atas tenggelamnya kapal tempur Cheonan.

Sumber : ANTARANEWS

Posted by: jorkep | May 26, 2010

AS Sudah di Belakang Korsel

Ilustrasi

26 mei 2010, Seoul — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, tiba di Korea Selatan sebagai dukungan bagi sekutu AS itu ketika mereka menghadapi Korea Utara karena sebuah kapal perang yang ditorpedo.

AS telah menjanjikan dukungan tegas kepada Korsel, yang sudah berjanji untuk membuat Korut membayar menyusul serangan yang membelah korvet Korsel menjadi dua pada Maret lalu dengan kematian 46 tentara di dalamnya. Hillary telah mendesakkan kasus Seoul itu di Beijing, China, dalam dua hari pertemuan tingkat tinggi.

Penyelidikan internasional menyimpulkan pekan lalu bahwa Korut telah melakukan serangan meskipun negara itu membantahnya. Namun, China, tidak seperti sejumlah negara lainnya, gagal untuk mengkritik secara terbuka sekutunya itu dan hanya menyerukan pengekangan diri.

Sebagai anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memegang hak veto, dukungan China sangat penting jika Korsel akan menjamin tindakan penghukuman internasional yang negara itu usahakan.

China dan AS, Selasa, mengatakan, mereka akan bekerja sama untuk memecahkan krisis yang terjadi di Semenanjung Korea, sependapat bahwa menjamin stabilitas regional adalah sangat penting. “Kami siap untuk bekerja sama dengan AS dan pihak lainnya serta terus memerhatikan secara dekat situasi di Semenanjung Korea,” kata Wakil Menlu China Cui Tiankai kepada wartawan.

Sementara Hillary mengatakan, Washington dan Beijing membagi keinginan akan perdamaian dan stabilitas di semenanjung itu. “Sekarang kami harus bekerja sama lagi untuk menghadapi tantangan serius yang dipicu oleh penenggelaman kapal Korsel.”

Dalam pertanda masalah sebelumnya, Korut, Selasa, mengatakan, negara itu telah memutuskan semua hubungan dengan Korsel dan memutuskan hubungan komunikasi sebagai protes karena disalahkan dalam tenggelamnya kapal tersebut.

Korut menyatakan mereka akan mengusir semua personel Korsel dari kawasan industri yang dijalankan bersama di Kaesong di utara perbatasan, serta melarang kapal dan pesawat Korsel dari perairan dan angkasa teritorialnya.

Pyongyang menuduh Angkatan Laut Korsel telah masuk tanpa izin di perairannya dan mengancamkan tindakan militer.

Korsel, Senin, menghentikan perdagangan dengan tetangganya itu sebagai bagian dari serangkaian tindakan pembalasan, tetapi meletakkan harapan pada resolusi dan kemungkinan sanksi baru Dewan Keamanan PBB untuk mengekang Korut.

Negara itu mendesak pejabat senior China, Wu Dawei, yang sedang berkunjung, Selasa, untuk mendukung upaya penghukuman internasional, yang tampaknya tanpa hasil. “Sikap China masih tampak tidak jelas,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri.

Presiden Korsel Lee Myung-bak dan Menlu Yu Myung-hwan akan mengharapkan pernyataan yang lebih jelas dari Beijing ketika mereka bertemu Hillary, Rabu.

AS, yang menempatkan 28.500 tentara di Korsel, telah menawarkan dukungan militer dan diplomatik dalam krisis itu.

Presiden AS Barack Obama juga telah memerintahkan para pemimpin militernya untuk berkoordinasi secara erat dengan Seoul “untuk menjamin kesiapan dan menghalangi agresi pada masa depan”.

Sumber : KOMPAS

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.